Untung Atau Justru Buntung Akibat DP Rumah Menjadi 15 Persen?

kpr

Bank Indonesia pada waktu beberapa hari lalu telah mengabarkan bahwa pihaknya  kembali melakukan pelonggaran dalam kebijakan rasio Loan to Value (LTV). Bank Indonesia telah menurunkan down payment atau uang muka untuk kredit properti, misalnya saja rumah. Kebijakan ini dilakukan untuk mengupayakan dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tengah membaik, serta untuk terus meningkatkan fungsi intermediasi perbankan.

bank indonesia

Adapun salah satu kebijakan tersebut, yakni penurunan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk rumah pertama dari sebelumnya di angka 20 persen, kini menjadi 15 persen. Sementara untuk uang muka KPR bagi rumah kedua juga mengalami penurunan hingga kini menjadi 20 persen. Sedangkan bagi rumah ketiga, menjadi sebesar 25 persen. Kebijakan ini terhitung dan sudah berlaku dari tanggal 29 Agustus 2016 lalu.

Berdasarkan informasi dari situs resmi BI, dikatakan bahwa kebijakan ini memiliki tujuan sebagai pendorong berjalannya fungsi intermediasi perbankan yang dimana tetap memperhatikan berbagai hal, mulai dari prinsip kehati-hatian, hingga perlindungan bagi para konsumen. Sehingga dengan uang muka yang terbilang kecil ini, mampu menjadi motivasi bagi masyarakat agar dengan segera mendapatkan hak atas kepemilikan sebuah properti.

kpr

Untuk kamu yang memiliki rencana untuk mengajukan Kredit Pemilikan Rumah, sebaiknya kamu memperhatikan beberapa hal berikut ini, agar tentunya kamu memahami terkait kebijakan pelonggaran LTV tersebut.

Tanggapan Para Pengembang dan Perbankan

Penurunan uang muka rumah yang kini menjadi 15 persen, ternyata mendapatkan tanggapan yang dingin dari para pengembang. Mereka menilai bahwa upaya BI tersebut masih kurang cukup dalam mengembalikkan pasar properti di Indonesia.

developer property

Sementara dari sisi perbankan, mereka menanggapi bahwa terdapat risiko yang dapat dikatakan lebih tinggi yang nantinya harus ditanggung. Ambil contoh ketika terjadi kredit yang tak berjalan seharusnya, maka pihak bank akan menanggung risikonya yakni presentase menjadi lebih tinggi, dari sebelumnya 80 persen menjadi 85 persen. Sehingga nantinya akan mengalami proses seleksi yang lebih ketat. Namun disisi lain, berbagai kalangan justru menilai bahwa kebijakan ini akan membantu dalam mewujudkan Program Sejuta Rumah bagi masyarakat umum.

Lalu, bagaimana dengan cicilan KPR?

Direktur Eksekutif IPW, Ali Tranghanda menjelaskan bahwa uang muka yang rendah, dapat memperbesar cicilan setiap bulannya. Namun walaupun naik, tetapi masih dapat dikatakan sangat terjangkau bagi masyarakat kita. Sehingga dengan kebijakan ini, masyarakat menjadi lebih cepat dan mudah dalam mewujudkan impian dalam memiliki hunian idaman, walau memang belum sepenuhnya terbantu. Ali menilai bahwa uang muka sebesar 5 persen merupakan jumlah yang ideal.

cicilan kpr

Ali memberikan contoh pada penjualan sebuah rumah yang berharga sebesar Rp 200 juta. Jika menerapkan kebijakan yang lama yakni sebesar 20 persen, maka debitur diharuskan membayar uang muka sebesar Rp 60 juta, dan besaran cicilan perbulannya sebesar Rp 2,7 juta. Sementara jika uang muka hanya sebesar 5 persen saja, seperti yang diharapkan Ali, maka uang muka yang di bayarkan hanya sebesarRp 15 juta saja, dan untuk uang cicilan perbulannya hanya sebesar Rp 3 juta saja.